|
News Archive :
Online Visitor : 1
|
September 8th, 2010
SEJARAHSokka adalah sebuah sentra genteng keramik tertua di Pulau Jawa. Daerah ini terletak di desa Kedawung, kabupaten Kebumen, sekitar 100 km arah barat dari Yogyakarta. Sokka bukan nama desa melainkan nama stasiun. Ia diambil dari nama seorang pemilik pabrik genteng di zaman Hindia belanda bernama Meneer van der Sook. Letak pabrik itu tepat di belakang stasiun kereta api. Pada zaman Hindia Belanda kereta api merupakan satu-satunya sarana angkutan darat. Van der Sook dan meneer Vlam, pada sekitar tahun 1913 menemukan tanah yang sangat baik untuk industri genteng keramik. Tanah di Kebumen, terutama di sepanjang aliran sungai Luk Ulo merupakan tanah yang banyak mengandung kaolin. Kaolin merupakan unsur utama pembentuk tanah liat yang merupakan bahan keramik. Dengan mutu bahan yang amat baik ini maka genteng keramik Sokka lebih unggul dibandingkan dengan genteng-genteng rakyat yang tersebar hampir di semua kota di Jawa tengah dan jawa timur. Karena berfungsi sebagai atap pelindung dari panas matahari dan hujan, maka genteng yang baik harus mampu menahan air hujan agar tidak merembes. Inilah persyaratan yang tidak dimiliki oleh semua genteng. Genteng yang baik tingkat rembesannya di bawah 10%. Sebelum mengenal mesin pencetak genteng, masyarakt Sokka memproduksi genteng vlam yang berbentuk seperti huruf S. Mereka membuatnya dengan alat terbuat dari kayu. Setelah mengenal mesin cetak genteng, mereka kini memproduksi banyak macam genteng, terutama genteng plentong dan genteng kodok. Semua desain model genteng di Sokka berasal Eropa yang diperkenalakan oleh van der Sook dengan Mr. Vlam. Pabrik milik van der Sook sekarang tinggal puing-puing berupa bekas cerobong asap tungku. Teknologi yang dulu digunakan di zaman Hindia lebih maju dibandingkan dengan teknologi produksi genteng yang dilakukan oleh masyarakat Sokka di zaman sekarang. Dalam memproduski genteng, van der Sook telah menggunakan tungku model api berbalik (shuttle kiln), sementara sekarang tungku yang digunakan adalah tungku model api naik. Hasil pembakaran menggunakan tungku api berbalik lebih baik. Panas tungku lebih merata, dan tingkat kerusakan rendah. Ini benar-benar merupakan sebuah kemunduran sejarah. Demikian pula dengan teknologi pencetakan genteng. Di zaman Hindia Belanda, yang digunakan adalah mesin berteknologi revolver yang digerakkan dengan dinamo. Mengingat mesin tersebut harganya mahal, maka mesin cetak yang digunakan sekarang adalah model handpress sebagaimana industri genteng rakyat di China. Mesin ini diperkenalkan oleh seorang wiraswastawan asal Tegal, H. Hisyam Adnan, yang pada saat itu menjadi direktur PT. Matahari SS. Kini H. Hisyam Adnan membuka pabrik sendiri dengan nama Pabrik Mesin HISYAM ADNAN. Dengan diperkenalkannya mesin handpress ini oleh H. Hisyam Adnan, maka sejak akhir tahun 1970-an, bermunculan pabrik-pabrik genteng di Sokka dan Jatiwangi. Harga mesin yang terjangkau memungkinkan masyarakat membuka usaha pembuatan genteng, sehingga lahirlah sebuah sentra industri. Mesin-mesin buatan Tegal ini tidak hanya digunakan di pabrik-pabrik genteng di Sokka dan Jatiwangi saja melainkan juga dikirim ke Lampung, terutama daerah Pringsewu dan Tegineneng. Masyarakat Lampung yang memproduksi genteng adalah transmigran asal Kebumen. Mereka membawa keahlian di bidang pembuatan genteng dan menularkannya kepada masyarakat Lampung. Dari segi pemasaran, konon kapal-kapal Belanda banyak yang membawa genteng produksi Sokka ini untuk melayani para pembeli dari Eropa. Itu dulu, saat penguasa bangsa ini adalah orang-orang Belanda.
Berita-berita tentang Genteng: "Pekerja Terpaksa Diliburkan Genteng Sulit Dikeringkan"
Kompas, 22 Pebruari 2008
KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN / Kompas Images
Buruh pabrik genteng di Desa Citeko, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengeringkan genteng hasil cetakan di rak, Kamis (21/2). Akibat mendung dan hujan, produksi genteng anjlok hingga lebih dari 90 persen. Purwakarta, Kompas - Produksi genteng di sentra industri genteng di Kecamatan Plered dan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, turun hingga 90 persen karena kondisi cuaca tak memungkinkan melakukan proses pengeringan. Sebagian pengusaha terpaksa menutup usaha dan meliburkan pekerjanya. Ade Jazuli (47), pengusaha genteng cetak di Desa Citeko, Kecamatan Plered, Kamis (21/2), mengatakan, mendung serta hujan sepanjang hari sejak tiga pekan lalu membuat genteng sulit kering. Dengan intensitas penyinaran normal, genteng biasanya kering dalam dua kali penjemuran selama dua hari. Proses pengeringan kini mundur hingga lebih dari 12 hari. Genteng hasil cetakan hanya diangin-anginkan di rak. Akibatnya, kualitas genteng kurang optimal. Warnanya terkadang kusam dan mudah pecah. ”Dengan penyinaran normal, dalam seminggu bisa diproduksi 200.000 genteng plentong natura (ukuran standar panjang 22 sentimeter dan tidak dicat). Namun, sejak musim hujan lalu paling banyak 7.000 genteng,” ujarnya. Kini hanya sekitar 120 dari 200 karyawan Ade Jazuli yang bekerja. Waktu kerja terbatas hingga siang. ”Sebenarnya rugi jika tetap produksi dalam cuaca seperti ini, tetapi kasihan karyawan jika harus diliburkan hingga berhari-hari,” ujarnya. Tidak berproduksi Asep Sutarli (56), pengawas pabrik genteng lainnya di Desa Citeko, menambahkan, puluhan pabrik berhenti produksi untuk sementara karena tempat penjemuran terbatas. Menurutnya, ribuan buruh di puluhan pabrik genteng menganggur sejak tiga pekan lalu. ”Dengan cuaca seperti ini, mereka tak bisa mengeringkan genteng meski dengan mengangin-anginkan di rak. Mereka memilih libur,” kata Asep. Berdasarkan pantauan Kompas, pabrik genteng yang tidak beroperasi hari Kamis, antara lain, terdapat di Desa Citeko dan Pamoyanan, Kecamatan Plered, serta di Desa Citalang, Kecamatan Tegalwaru. Sebagian besar berkapasitas produksi ribuan hingga belasan ribu genteng per minggu atau skala kecil. Selain cuaca, pengusaha genteng juga terkendala mahalnya harga bahan bakar. Pascakenaikan bahan bakar minyak beberapa tahun lalu, satu per satu pabrik bangkrut. (MKN) |
|
|
Copyright © 2004 - 2010 , by hi-nan.com. All Rights Reserved.
Themes by Ph03y3nk. Site engine powered by JAF CMS © 2004.
|
||